KSPSI: Hanya Chaidir-Suhartina yang Berani Teken Kontrak Politik dengan Buruh

Chaidir Syam bersama komunitas pekerja. (FOTO: IST)

MAROS, MM – Komunitas buruh atau serikat pekerja di Kabupaten Maros menentukan arah dukungan di Pilkada Maros 2020. Jatuhnya pada pasangan nomor urut 2, Chaidir Syam-Suhartina Bohari (HatiKita Keren).

Deklarasi pun digelar Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Maros, Minggu, 16 November 2020. Ratusan pekerja dari berbagai perusahaan di Maros menyatakan komitmennya untuk memenangkan pasangan tersebut.

Read More

Ketua KSPSI Maros, Muh Ridwan mengatakan, dari tiga paslon hanya Chaidir-Suhartina yang berani menandatangani kontrak politik dengan kaum buruh atau serikat pekerja.

“Alasan lain, beliau ini punya rekaman sejarah yang cukup panjang dengan KSPSI Maros dalam berjuang,” katanya.

Ridwan menjelaskan, ada beberapa poin kotrak politik yang telah ditanda tangani oleh Chaidir. Mulai dari Perda Ketenagakerjaan, pengaktifan LKS Tripartit dan dewan pengupahan, hingga pemberian jaminan sosial bagi pekerja non ASN dan pegawai syara.“Selain itu, kami sepakat pemerintah nantinya mewajibkan perusahaan di Maros memprioritaskan pekerjanya itu dari Maros minimal 75 persen. Termasuk juga penyeragaman SK bagi honorer,” lanjutnya.

Usai penandatanganan itu, Ridwan secara tegas menginstruksikan ke seluruh pengurus baik di tingkat konfederasi, federasi, sampai di tingkat perusahaan agar ikut memenangkan pasangan HatiKita Keren di Pilkada Maros ini.

Chaidir mengatakan, mensejahterahkan buruh atau pekerja, sama halnya dengan mensejahterahkan masyarakat Maros. Pasalnya, sekitar 80 persen warga Maros adalah kaum pekerja baik sektor formal maupun informal.

“Kelas pekerja adalah urat nadi perekonomian. Jadi tidak ada alasan bagi kami HatiKita Keren menolak memperjuangkan hak mereka. Apalagi Maros sudah masuk dalam desain kawasan Industri besar. Selain peluang kerja, perlindungan bagi mereka harus ditegakkan,” sebut Chaidir.

Mantan ketua DPRD Maros itu enyebut, dalam 12 program Maros Keren, yang paling pertama memang menyangkut persoalan tenaga kerja, yakni menyiapkan kemudahan akses 20 ribu peluang kerja dan bisnis baru. Di dalamnya terdapat pengembangan Balai Latihan Kerja (BLK).

“Jadi selain memberikan perlindungan, angkatan kerja kita juga harus di-upgrade dengan kemapuan khusus agar bisa bersaing dengan tenaga kerja dari luar. Kalau perlu Maros yang mengimpor tenaga andalnya ke wilayah lain sampai luar negeri,” ujarnya. (*/ad) 

Related posts