Kisah Dokter di Maros yang Gratiskan Pasien dan Bagi Beras Setiap Jumat

Dokter Mohammad Syakur Ridho. (FOTO: IST)

MAROS, MM – Usianya baru akan genap 33 tahun, 27 Oktober 2020 ini. Namun dr Mohammad Syakur Ridho merasa tidak banyak lagi yang mesti dikejar berlebihan. Sewajarnya saja.

“Tuhan memberi kesempatan hidup, rezeki yang cukup. Sisa kita yang mesti mengabdi,” ujarnya, Jumat, 9 Oktober 2020.

Read More

Makanya, mulai Jumat pekan lalu, Ridho membuat program gratis periksa bagi semua pasien yang datang ke tempat praktiknya, Klinik dan Apotek Cemerlang Farma, Kompleks Graha Cemerlang, Batangase, Kabupaten Maros. Rencananya, program itu akan terus dia lakukan, setiap Jumat.

Ridho praktik dua sesi dalam sehari. Pagi hingga pukul 11.00, dilanjut sore sampai malam. “Sementara gratis konsultasinya sekali sepekan. Setiap Jumat. Tetapi saya punya impian ini bisa dibuat sesering mungkin,” ucap alumni Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah itu.

Untuk obat pun, Ridho menggratiskan. Tetapi khusus bagi pasien yang tidak mampu.

“Sedangkan bagi pasien yang perlu rawat inap di rumah sakit, kami juga akan beri bantuan sebisanya,” ucapnya.

Tak hanya itu, putra dr Arief Setyabudi, dokter legendaris di Jalan Mawar itu punya program keliling setiap selesai salat Jumat hingga menjelang buka praktik sore. Alumni SMAN 1 Maros itu siap mendatangi pasien di sekitaran Maros yang benar-benar perlu dikunjungi.

Dia pun meminta MataMaros.com serta siapa saja yang mengetahui ada warga yang butuh pertolongan semacam itu, untuk menghubunginya. Atau bisa menyampaikan terlebih dahulu di kliniknya.

Ridho menyebut semua itu langkah awal. Dia punya impian yang lebih besar. Yakni mendirikan rumah sakit kemanusiaan. Rumah sakit yang menggratiskan perawatan dan pengobatan pasien tidak mampu.

Dia berkisah, suatu waktu lewat di Jalan AP Pettarani, Makassar dan melihat sebuah rumah sakit. Air matanya tiba-tiba menetes. Dia membayangkan rumah sakit seperti itu, jika tidak bisa gratis, minimal ada waktu sekali sebulan untuk melayani pasien miskin secara cuma-cuma.

“Mungkin impian saya terlalu besar. Tetapi saya mulai saja dulu,” ucap Ridho lagi.

Pengalaman lain yang mengilhaminya adalah seorang ponakannya nyaris tak tertolong karena kena Covid-19. Tetapi akhirnya bisa ditangani dan pulih. Di situ Ridho merasa tidak ada yang benar-benar harus dikejar. Usia bisa selesai kapan dan di mana saja. Pengabdian untuk kemanusiaan yang akan abadi, kenangannya, juga pahalanya.

Oh iya, program Dokter Ridho tidak hanya itu. Setiap hari Jumat dia juga mendonasikan 50 persen dari keuntungan rapid test di kliniknya, untuk disumbangkan ke masjid, pondok pesantren, yatim piatu, duafa, dan fakir miskin.

Bersama anak-anaknya, setiap Jumat juga, sang dokter muda keliling Maros untuk membagikan nasi kotak serta beras kepada mereka yang membutuhkan. Sudah cukup lama dia melakoni program yang satu ini.

Belakangan, programnya makin ramai. Beberapa donatur yang rata-rata pasiennya, turut terlibat. Saling bantu, saling kasih. (nir)

Related posts