Sepak Terjang Arsyad Daeng Lira, Peracik Kopi Legendaris di Maros

  • Whatsapp
Arsyad Daeng Lira membangun beberapa warung kopi dengan brand Daeng Te'ne di Maros. (FOTO: MATAMAROS.COM)

Gelar legenda masih debatable. Namun bahwa dia sudah cukup lama meracik kopi di kabupaten ini, nyaris tak terbantahkan.

***

Read More

AWALNYA murni persoalan efisiensi. Seseorang yang sangat suka minum kopi sebaiknya tahu menyeduh kopi. Lebih baik lagi jika punya warung kopi sendiri.

Begitulah yang dilakukan Arsyad Daeng Lira pada 2008. Kegemaran nongkrong di warkop perlahan dirasakannya sebagai tindakan yang membahayakan dompet. Dia penjual ponsel waktu itu, dengan keuntungan yang kadang banyak kadang tak ada.

Kegundahannya kala itu berbarengan dengan masuknya Buana, sebuah kedai kopi yang cukup dikenal di Makassar. Ba’ba (sapaan akrab Arsyad Daeng Lira) merasa akan punya pelanggan juga jika membuat warung kopi. Belum bicara cita rasa kopi, apalagi sampai detail ke soal konsep atau interior.

“Saya punya banyak teman. Itu alasan utama saya merasa optimis,” ujar Ba’ba di Asal Kopi by Daeng Te’ne, Selasa, 15 September 2020.

Modal pertemanan itu juga yang memotong beberapa hal yang berpotensi menjadi kendala. Terutama, tentu saja, soal kemampuan meracik kopi. Bagaimana pun, dia lebih memahami tipe dan fitur handphone ketimbang mengenai arabika atau robusta.

Ba’ba merasa enteng untuk pergi ke Makassar, belajar selama tiga hari kepada Daeng Sija, salah satu jagoan kopi di Makassar.

Sebenarnya bisa saja Ba’ba langsung membeli waralaba Daeng Sija. Membuka warkop di Maros dengan merek yang sudah sangat dikenal itu. Tetapi dia tak punya cukup uang waktu itu untuk melakukannya.

Bisa belajar langsung dari Daeng Sija sudah disyukuri. Sayangnya waktu tiga hari tak membuatnya bisa mendekati kemampuan sang guru. Daeng Sija sampai harus mengirim kakaknya, Daeng Sawi, untuk mengajari Ba’ba yang sudah mendirikan warkop di samping aliran Sungai Maros, dekat Coto Dili.

“Satu bulan saya didampingi. Bayar juga, tetapi tidak semahal jika beli franchise-nya,” kenangnya.

Warkop itu bernama Daeng Te’ne. Nama yang diambil dari paddaengang sang istri, Halwiyah. Artinya dalam Bahasa Indonesia adalah manis. Cukup rasional untuk dijadikan merek warung yang menjual kopi yang beberapa variannya mesti dicampur susu.

Tetapi ada alasan lain.

“Syukur-syukur kalau orang menganggap Daeng Te’ne itu bersaudara dengan Daeng Sija,” ujarnya, tertawa.

Warkop Daeng Te’ne langsung laris. Dengan harga segelas kopi saat itu yang masih Rp6 ribu per gelas, Ba’ba bisa mengantongi omzet hingga Rp1,5 juta per hari. Euro 2008 dan jelang Pilpres dan Pilkada 2009 turut membantu. Orang-orang butuh tempat untuk bertemu dan beradu wacana, sambil ngopi.

Semua berjalan lancar. Ba’ba juga perlahan menempatkan diri sebagai salah satu peracik kopi terbaik di Maros. Dia melakukannya dengan teko, bukan mesin.

Meski faktor seni cukup dominan menjadi alasannya tak memakai mesin, Ba’ba lagi-lagi akan menjawab dari pendekatan ekonomi. “Kita bisa tahu berapa harga mesin kopi itu, Dek. Ampun.”

Memasuki empat tahun buka, volume omzet mulai mengecil. Pusat kuliner Pantai Tak Berombak (PTB) mulai buka. Perhatian orang-orang, terutama anak muda, mulai terbagi. Antara nongkrong di warkop atau tepi danau. Saat itu juga sudah mulai muncul beberapa warkop lain di Maros. Semakin banyak pilihan.

Pada 2013, Ba’ba memutuskan pindah lokasi. Di Jalan Azalea. Tak jauh dari PTB. Dia memprediksi kawasan itu akan semakin ramai.

Prediksi yang tidak meleset. Lihat saja PTB dan sekitarnya saat ini. Dan tak pandang waktu. Pagi, siang, sore, apalagi malam. Orang-orang berkumpul di sana, membagi diri ke kedai-kedai.

Warkop Daeng Te’ne Azalea juga ramai. Apalagi Ba’ba pun sudah memiliki pelanggan-pelanggan loyal. Mereka yang tak peduli di mana tempatnya, asal Ba’ba yang meracik kopinya.

Tetapi sebuah keputusan besar diambil Ba’ba pada 2017. Dia pamit dari dunia perkopian. Warkop Daeng Te’ne Azalea tutup. Ba’ba menggantung teko. Pria asal Malewang, Desa Mattoanging, Kecamatan Bantimurung, itu masuk politik.

Apa menyesal dengan keputusan itu?

Ba’ba bilang tidak sama sekali. Sebab hikmahnya adalah dua adiknya bisa jadi pengusaha warung kopi juga. Satu di depan Pasar Tramo, satu di kompleks terminal. Semuanya memakai brand Daeng Te’ne juga karena sudah telanjur dikenal.

“Alhamdulillah semuanya bisa eksis. Karena saya lihat hal paling menentukan pada bisnis warkop itu adalah pertemanan. Rasa belakangan. Dan mereka punya pergaulan luas juga,” ucap pria berusia kepala empat itu. Tidak diketahui persisnya karena dia hanya menyebut tanggal kelahirannya, 15 Juli. “Pokoknya 40-an. Bisa 41 bisa 49.” Ba’ba tertawa lagi.

Dan Ba’ba pun kembali. Sebuah warkop dia rintis di tempat yang lebih strategis, persis di perempatan PTB. Sudut ketemu sudut.

Brand Daeng Te’ne masih dipakai. Namun sudah dibuat lebih kecil tekanannya pada tulisan. Nama resmi warkopnya itu adalah Kopi Pagi by Daeng Te’ne. Jika seseorang enggan menyebut panjang, cukup dengan Kopi Pagi.

Ba’ba memilih nama itu karena yakin akan memicu perbincangan. Kopi Pagi yang juga masih menjual kopi pada siang hingga jelang tengah malam akhirnya memang sukses membuat beberapa orang bertanya-tanya. Syahrul Yasin Limpo, menteri pertanian, yang ke sana beberapa waktu lalu juga sempat berkelakar “Kita kan ngopinya siang, kok di Kopi Pagi?”

Nama itu juga adalah bentuk penghargaan Ba’ba pada pemilik ruko yang sebelumnya membuka usaha mebel di situ dengan nama Sinar Pagi. Ada juga satu perubahan kecil namun sangat filosofis yang dibuat Ba’ba di situ. Kopi tak lagi disajikan dalam gelas, melainkan cangkir.

“Inspirasinya dari Papa Ong, kedai kopi di Jalan Rusa, Makassar. Saya di situ tiga hari sebelum Kopi Pagi,” bebernya. Dia juga merasa lebih menghargai pelanggan jika menyajikannya kopi dalam cangkir.

Kerinduan pencinta kopi Daeng Te’ne terobati dan bahkan meluas hingga wilayah Batangase dan sekitarnya. Daeng Te’ne hadir juga di Grand Mall. Pembukaan yang kebetulan.

Saat itu, Januari 2020, hari Minggu, Ba’ba baru menghadiri sebuah pesta pernikahan di ballroom mal itu. Dia pun mampir ngopi di Abid Kopitiam. Pemilik Abid, Firman Sagli tiba-tiba menawarkan kerja sama.

Deal. Abid Kopitiam berubah menjadi Daeng Te’ne. Dikelola oleh Ba’ba. Dan tahukah Anda interval dari proses deal itu ke pembukaan warkop versi baru? Hanya sehari. Daeng Te’ne Grand Mall buka hari Senin, hanya sehari setelah Ba’ba dan Firman bersalaman.

Daeng Te’ne itu juga yang kemudian viral sebagai warkop penitipan suami. Sebab menjadi tempat para istri yang sedang berbelanja di mal, “menyimpan” suaminya agar tak rewel. Ba’ba diundang Deddy Corbuzier. Menjadi bintang tamu Hitam Putih.

“Saya gemetaran di studio Trans 7,” katanya, lagi-lagi tertawa.

Lalu beberapa hari ini Ba’ba bikin kejutan lagi. Asal Kopi by Daeng Te’ne sudah buka di lokasi lama di Azalea. Tempat yang akan sulit disebut warkop, sebab interiornya mirip kafe.

Asal Kopi memang dimaksudkan Ba’ba untuk menyasar kalangan yang lebih muda. Tetapi suasananya saja. Cita rasa kopinya sama saja layaknya jaringan Daeng Te’ne lainnya.

“Bukan saya pengelolanya,” ucap Ba’ba.

Asal Kopi dikelola oleh Aslam, seorang pemuda 21 tahun, putra Ba’ba. “Saya sering di sini karena rumah bersambung dengan warkop. Tetapi saya tidak mau banyak mencampuri. Ini urusan anak muda,” tambah pria yang mengaku tak memakai ponsel itu. “Supaya teman-teman yang mau bicara dengan saya, datang langsung dan beli kopi. Hehehe.”

Asal Kopi ini memang lebih modern, termasuk desain. Dapurnya ada di depan. Itu inspirasi yang didapat Ba’ba usai mengunjungi kedai Filosofi Kopi di Melawi, Jakarta. Ba’ba menyempatkan waktu usai menjadi bintang tamu Deddy saat itu. Ke sananya naik Grab.

Begitulah perjalanan Ba’ba menempatkan dirinya sebagai sosok paling dibicarakan di Maros jika temanya terkait bisnis warung kopi. Perjalanan yang bahkan sudah tiba di fase yang cukup jauh; regenerasi.

Tetapi Ba’ba, seperti sebelum-sebelumnya, lagi-lagi tak merasa superior dalam meracik kopi. Dia menyebut kopi buatannya sama saja dengan orang-orang. Hal yang langsung dibantah seseorang yang mendengar wawancara terkait tulisan ini.

“Ah tidaklah. Kami ke sini karena tahu Ba’ba yang racik kopinya,” ucap pelanggan itu.

Namun Ba’ba ngotot tak istimewa dalam meracik kopi. Dia bahkan menyebut Sapar, salah seorang pekerjanya, sudah lebih jago. “Rasa-rasanya dia memang sudah kalahkan saya.”

Ba’ba boleh membantah. Namun faktanya Daeng Te’ne kian menggurita. Apa lagi selain pertemanan yang bisa membuat orang-orang rela datang berulang kali ke sebuah warung kopi? (imam dzulkifli)

Related posts