Pertarungan Strategi dan Reputasi Tiga “Panglima Perang” di Pilkada Maros

  • Whatsapp
Dari kiri; Muzayyin Arif, Andi Patarai Amir, dan Andi Muhammad Irfan AB. Mereka sedang dalam sebuah kontestasi besar. (FOTO: IST)

Di luar para kandidat, Pilkada Maros 2020 adalah kompetisi tiga politikus ternama di kabupaten ini. Boleh dibilang semuanya sedang di puncak. Dan kini harus turun gunung untuk saling mengalahkan.

MAROS, MM – Masih awal tahun saat itu. Chaidir Syam yang baru pulang dari kantornya di DPRD Maros berdiri di depan relawannya yang memenuhi posko pemenangan di seberang RSUD Salewangang. Dia mengumumkan nama master campaign atau ketua tim pemenangan.

Read More

Orangnya ada di situ juga. Andi Muhammad Irfan AB. Elite PAN Sulsel itu duduk di samping kanan Chaidir. Di sisi kiri Suhartina Bohari, bakal calon wakil bupati mengenakan jilbab kembang-kembang.

Relatif tidak ada kejutan. Sebab Irfan-lah kader PAN yang bermukim di Maros yang paling tenar dalam beberapa waktu terakhir. Dia peraih 36.212 suara dari Dapil 6 (Maros, Pangkep, Barru, Parepare) pada Pileg 2019. Khusus di Maros 32.414 suara.

Kesediaan pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu memimpin kerja-kerja pemenangan HatiKita Keren (tagline Chaidir-Suhartina) menambah optimisme kandidatnya.

“Beliau meraih suara signifikan di Pileg serta berpengalaman memenangkan pilkada di Sulsel,” tutur Chaidir, Senin, 7 September 2020 lalu.

Irfan belum pernah ikut kontestasi pilkada. Namun saat menjadi direktur di sebuah lembaga survei dan konsultan politik, dia punya andil mengantar beberapa kandidat sebagai kampiun. Rusdi Masse di Sidrap, Burhanuddin Unru di Wajo, atau Andi Aslan Patonangi hanya beberapa di antaranya.

Tetapi misi Irfan tak akan mudah. Kali ini pertarungannya di kampung sendiri. Tempat popularitas dan sisi minus seorang tokoh biasanya bersemayam sekaligus, sebab selalu ada conflict of interest. Apalagi, di kubu rival, panglima perangnya juga bukan figur sembarangan.

Ada Muzayyin Arif di tim Andi Harmil Mattotorang-Andi Ilham Nadjamuddin (Maros Unggul). Kolega Irfan di dewan provinsi.

Muzayyin jelas mesti diperhitungkan. Keterpilihannya di Pileg 2019 lalu (juga dari Dapil 6) dengan raihan 20.706 suara adalah fakta yang layak membuat waspada. Apalagi, dia terkenal punya tim militan, tim yang menamakan diri The Power of Maros.

Muzayyin bilang, timnya tak terbongkar. Masih utuh sampai kini. Sebab dia memang berupaya merawatnya baik-baik. Makanya kesempatan reses dan sosialisasi perda yang rutin dia dapatkan sebagai legislator itu tak dia sia-siakan. Dari Marusu hingga Mallawa, dari Bontoa sampai Tompobulu, dan seluruh kecamatan lain di Maros, sudah disentuhnya selama kurun waktu setahun ini.

Tiga hari lalu pria 38 tahun itu mengumpulkan para dedengkot The Power of Maros. Diklaim ada 500-an orang yang hadir pada pertemuan di Baruga Pemenangan Maros Unggul itu.

“Saya ingin tanya, apakah saudaraku sekalian bersedia untuk kembali berikhtiar dalam kontestasi ke depan, memenangkan Andi Toto dan Andi Ilham?” pekiknya. “Siap!” Satu kata itu menjadi kor, memantul-mantul di dinding gedung.

Dan kemarin, Muzayyin langsung tancap gas. Wakil Ketua DPRD Sulsel itu mulai merambah pelosok.

Tetapi jangan lupa, pada kandidat satunya lagi ada nama Andi Patarai Amir. Ketua DPRD Maros itu juga akan mati-matian memperjuangkan jagoannya Tajerimin-Havid Fasha.

Seperti Muzayyin, Patarai memang agak telat menyetujui namanya sebagai ketua tim di internal masing-masing. Namun semua orang tahu, Ketua DPD II Partai Golkar Maros itu sudah lama mengawal langkah Tajerimin-Havid. Bahkan saat rekomendasi beringin belum pasti ke pasangan Tahfidz itu, Patarai sudah pasang badan.

Pergerakan tim kabupaten yang terlebih dahulu dibentuk juga terus berada di bawah koordinasi Patarai. Putra Mallawa itu juga ikut pada berbagai roadshow ke kecamatan-kecamatan. Dari yang ditempuh dengan naik mobil sampai yang bersepeda.

Sebagai caleg DPRD kabupaten pada Pileg 2019, perolehan suara Patarai memang tak sebanyak Irfan atau Muzayyin. Alumni Fakultas Ekonomi Unhas itu hanya meraih 2.635 suara. Namun dia adalah pimpinan tertinggi dewan, dengan didukung Fraksi Golkar yang menjadi penguasa dengan tujuh kursi. Total perolehan suara beringin tahun lalu mencapai 32.342.

Di luar itu, Patarai sedang punya pengaruh besar di Maros. Politikus muda dengan posisi strategis serta berasal dari parpol yang selama ini punya basis tradisional.

“Kita rebut kembali,” tuturnya berkali-kali. Hal yang mesti direbut kembali versi itu adalah posisi bupati di Maros. Kursi yang diduduki Golkar cukup lama sebelum M Hatta Rahman dan PAN mengambil alih sejak 2009. Langkah menuju ke situ sudah dilakoni, merebut kembali kursi ketua DPRD kabupaten.

Nah, melihat kiprah para master campign itu, wajar jika banyak yang memprediksi bahwa akan terjadi pertarungan sengit di Pilkada Maros. Kandidat dengan kandidat serta ketua tim dengan ketua tim. Semuanya datang membawa reputasi dan ekspektasi tinggi.

Khusus master campaign, hanya satu di antara ketiga tokoh itu yang akan jadi pemenang. Namun penentuannya masih berkisar 90 hari lagi. Interval itu yang akan menjadi waktu kompetisi bagi ketiganya dalam mengatur taktik dan strategi.

Irfan sangat yakin. “Bagaimana pun juga, pada berbagai survei sudah kelihatan tanda-tanda kemenangan Chaidir Syam-Suhartina Bohari,” tuturnya saat deklarasi HatiKita Keren, Sabtu, 5 September 2020.

Di acara itu jugalah Irfan mendapat tambahan rasa percaya diri. Sebab 2.500 kursi di tenda yang disiapkan panitia, tidak cukup untuk menampung para relawan dan simpatisan.

“Bukti bahwa pasangan kita begitu dicintai masyarakat Maros,” ucap lelaki 46 tahun itu.

Saat melakukan konsolidasi dengan timnya, Muzayyin juga sudah menegaskan optimismenya. Alasan utamanya adalah komponen relawan dan simpatisan yang diyakini militan.

“Kita bergerak di ranah politik ini tidak berangkat dari kemapanan dari kemapanan ekonomi. Juga tidak berangkat dari kekuatan kekuasaan. Tetapi yang menggerakkan kita adalah nurani, hati, dan pikiran. Yang akan bersambung dengan nurani, hati, dan pikiran masyarakat di seluruh pelosok Kabupaten Maros ini,” ucapnya, berapi-api.

Patarai tak kalah optimistis. Mesin partai Golkar, plus parpol lain dalam koalisi; PKB, Gerindra, dan Demokrat, diyakini akan bekerja maksimal. Apalagi, jika melihat jumlah kursi, Tahfidz-lah yang terbanyak dengan 15 kursi. Disusul Chaidir-Suhartina dengan 13 kursi dan Harmil-Ilham yang tujuh kursi.

Tetapi penentuannya memang ada di hari kesembilan bulan dua belas tahun ini. Dan mulai saat pendaftaran bakal calon beberapa hari lalu, para master campaign sudah memulai pertarungan resminya. Masing-masing bekerja dengan caranya, menggerakkan tim, agar bisa meraih simpati masyarakat.

Irfan, Muzayyin, atau Patarai yang bakal menang? Anda bebas memprediksi dan memilih. (abr)

Related posts