Jurnalis MataMaros.com Menang Lomba Penulisan Kementerian PUPR

  • Whatsapp
Para juri lomba penulisan artikel Hapernas 2020 di Jakarta.

JAKARTA, MM – Kabar itu diunggah panitia dari Jakarta, Selasa sore, 25 Agustus 2020. Imam Dzulkifli, salah satu jurnalis MataMaros.com, masuk daftar pemenang Lomba Penulisan Artikel Hari Perumahan Nasional 2020.

Artikel berjudul “Menanti Senja dan Suami Pulang Kerja dari Rumah Milik Sendiri” yang ditulis mantan wartawan Harian FAJAR itu menjadi juara ketiga. Mengalahkan 256 artikel lain dari seluruh Indonesia.

Read More

Imam Dzulkifli, jurnalis MataMaros.com. (FOTO: IST)

“Total ada 258 artikel yang masuk. Setelah dikurasi, sisa 25 artikel. Itulah yang bersaing sangat ketat hingga kita menemukan pemenang,” ujar Krisno Yuwono, Kasubdit Wilayah 2 Direktorat Rumah Swadaya Kementerian PUPR, yang juga salah satu juri.

Krisno mengakui, perdebatan untuk menentukan pemenang cukup sengit dan lama. “Karena memang ada beragam gaya penulisan yang semuanya menarik,” ucapnya.

Jurnalis senior Dwitri Waluyo menambahkan, pemahaman para peserta soal tema sudah bagus. Mereka pun menuliskan dengan berbagai model. Ada yang berupa opini, berita, hingga penulisan ilmiah.

Juri lain pada event yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR ini adalah Usman Kansong, Direktur Pemberitaan Media Indonesia.

Lomba Penulisan Artikel Hapernas ini diumumkan bertepatan dengan perayaan hari perumahan nasional yang ke-70, 25 Agustus 2020. Tema lomba adalah Meraih Impian Rumah Pertama. Untuk menggali kisah masyarakat yang akhirnya bisa membeli hunian pertamanya seumur hidup, lewat program rumah bersubsidi.

Selain lomba penulisan artikel, ada juga lomba foto dan video. Temanya sama.

Kisah Haru

Dzul, sapaan akrab Imam Dzulkifli, menuliskan kisah Indayanti dan suaminya Wawan Setiawan yang bisa mewujudkan impian memiliki rumah. Dengan uang muka rendah dan angsuran ringan karena disubsidi pemerintah, mereka akhirnya bisa membeli rumah di Bukit Indah Kapuk (BIK), Desa Purnakarya, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros.

“Kisahnya memang menarik dan menimbulkan haru. Saya berterima kasih kepada Ibu Indayanti dan keluarga yang sudah mau berbagi cerita, juga kepada pengembang Sakatama yang telah memberi ruang untuk berkreasi,” tutur Dzul.

Rumah di Blok C-37 itu memang merupakan buah dari penantian panjang Indayanti dan Wawan. Sebelumnya, pasangan muda itu berpindah-pindah rumah kontrakan. Membawa serta dua anak mereka yang masih kanak-kanak, Sakira dan Safira.

Hingga kemudian mereka “berjodoh” dengan rumah di BIK. Akad kredit 7 Februari 2020 dan Masuk rumah 18 Februari 2020. Indayanti pun bisa menanti suami pulang kerja setiap sore dari rumah sendiri, bukan lagi dari rumah yang dibayar sewanya namun tak dimiliki.

Rumah KPR Bersubsidi dengan papan nama berlogo Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu memang terasa luas bagi Indayanti. Apalagi jika mengingat perjuangannya dan suami sampai bisa mendapatkannya.

“Saya jualan jilbab. Pergi beli kain sendiri, jahit sendiri, jual sendiri, dan antar sendiri,” ucapnya.

BIK dikembangkan oleh perusahaan PT Sanusi Karsa Tama (Sakatama). Selain klaster rumah bersubsidi, ada juga klaster ruko dan vila.

Sakatama dikenal dengan brand Bumi Salam Sejahtera (BSS). Owner Sakatama, Abdul Salam menuturkan, pihaknya bahagia bisa berkontribusi dalam program rumah bersubsidi. “Keluarga-keluarga baru atau mereka yang tak punya banyak penghasilan, akhirnya bisa juga memiliki rumah,” ucapnya.

Dia mengaku kadang begitu terharu pada setiap acara akad kredit. Sebab akan ada saja calon user yang menitikkan air mata. Ada juga, lanjut Salam, yang bahkan datang khusus untuk mengucap terima kasih. Sebab telah disediakan rumah yang memungkinkan mereka bayar dengan ringan dan diangsur.

Pria yang baru saja mengikuti wisuda insinyur dan magisternya dalam sehari itu pun mengenang bagaimana Sakatama mulai ikut mengurusi rumah bersubsidi.

Waktu itu, kira-kira pada 2013, ekonomi sedang lesu. Penjualan ruko dan tanah kavling yang digeluti Sakatama terdampak. Tak banyak uang masuk selama berbulan-bulan. Hingga pada 29 April 2015, Salam menyaksikan tayangan pencanangan program pembangunan sejuta rumah untuk rakyat yang dilakukan Presiden Joko Widodo di Ungaran, Jawa Tengah.

Salam melihat celah pasar dan kemungkinan mengabdi dari program itu. Sakatama pun melebarkan sayap bisnisnya dengan membangun perumahan bersubsidi. Kebetulan ada lahan perusahaan yang kosong di Moncongloe.

Di lahan itulah terbangun Bumi Salam Sejahtera (BSS) 1 dengan 122 unit rumah di dalamnya. Diikuti BSS 2 yang memiliki 446 unit rumah, di sekitar situ juga.

Sakatama dalam relatif waktu singkat mampu membangun banyak rumah. Sebab BSS Land Mandai, beberapa kilometer dari BSS 1 dan BSS 2, juga mampu diwujudkan. Kini sudah ada 800 unit rumah di situ dan Salam yakin bisa membangun hingga 2.500 unit.

Itu masih ditambah dengan Bukit Indah Kapuk. Sudah terbangun 300 unit perumahan bersubsidi (sebagian besar didirikan cukup “nekat” di tengah lesunya pasar karena pandemi Covid-19). Targetnya hingga 1.500 unit.

“Pandemi memang jadi tantangan. Tetapi itu tadi, kami sudah berkomitmen untuk terus ikut membantu MBR. Bahagia melihat mereka begitu bahagia pula setiap menerima kunci rumahnya,” lanjut Salam.

Semua lokasi perumahan Sakatama berada di Kabupaten Maros. (abr)

Related posts