Golkar Sulsel Butuh Energi Baru, 4 Figur Ini Punya Daya Dobrak

  • Whatsapp
Mantan wakil ketua DPRD Maros, Andi Fahry Makkasau pada sebuah acara Golkar, beberapa waktu lalu. (FOTO: IST)

Oleh Andi Fahry Makkasau

PERHELATAN Musda Golkar selalu saja menjadi penantian setiap kader di daerah. Karena melalui musda-lah Golkar berbenah diri kembali, untuk perjuangan lima tahun ke depannya.

Read More

Itu berarti momen lima tahunan ini menjadi bagian terpenting dalam proses gerak Partai Golongan Karya.

Dalam konstitusi anggaran dasar Partai Golkar tertulis setidaknya ada tiga hal penting, yang senantiasa dibahas pada setiap forum musda;

Evaluasi kinerja kepengurusan lama, penyusunan program lima tahun ke depan, dan suksesi kepemimpinan partai Golkar di tingkatannya.

Dua hal pertama tidaklah terlalu menguras perhatian karena musda setidaknya selalu punya rasa untuk memberikan apresiasi atas kerja pengurus lama. Demikian pula terkait program kerja, apa yang diprogramkan pasti berkutat pada tiga hal pokok; konsolidasi, organisasi, program kaderisasi dan strategi pemenangan pesta demokrasi (pileg, pilkada, dan pilpres).

Namun khusus untuk hal ketiga yakni suksesi kepemimpinan akan menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Berkaitan dengan siapa sosok yang menjadi nakhoda perahu besar Golkar mengarungi lautan perjuangan untuk lima tahun ke depan. Perlu kehati-hatian dalam menentukan figur yang tepat karena salah memilih akan fatal jadinya.

Kader Golkar tentu tidak ingin mengalami risiko yang buruk karena keliru menetukan sang nakhoda.
Ketua bukan saja seorang nakhoda yang harus piawai menyelamatkan perahu besar dalam gelombang besar perpolitikan bangsa, tetapi sosok ketua juga haruslah seorang “panglima perang” yang tangguh, berani, dan ahli dalam memainkan strategi.

Itu penting. Agar partai Golkar bisa tetap eksis, unggul, dan tetap memegang peran utama dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari situlah sehingga amat tidak mudah menentukan dan memilih seorang ketua Golkar di Sulawesi Selatan.

Ada banyak faktor mengapa untuk Musda 2020 ini Partai Golkar Sulsel harus jeli menentukan ketua. Sebab Golkar Sulsel adalah salah satu pilar terkuat Golkar di tanah air.

Golkar Sulsel adalah barometer utama dalam mengukur kekuatan Golkar secara nasional. Kata sederhananya Sulsel adalah lumbung suara Golkar. Dengan bercermin pada prestasi kakanda Nurdin Halid (NH) dalam memimpin Golkar lima tahun terahir, maka ke depan tentu tidak mudah mencari figur yang sekaliber beliau.

Meski NH kalah bertarung di Pilgub tetapi di Pileg 2019 Golkar Sulsel tetap berjaya memenangkan pertempuran. Faktanya Golkar Sulsel memberi kontribusi 5 kursi untuk DPR RI dan 13 kursi untuk DPRD Provinsi, yang menjadi penentu direbutnya kursi Ketua DPR dan Ketua DPRD Sulsel.

Atas dasar itulah sehingga perlu mencari sosok figur dengan energi baru yang segar. Idealismenya masih murni dan belum terkontaminasi dengan faksi-faksi dalam tubuh partai yang kadang merugikan pergerakan organisasi ke depan.

Kita butuh figur muda yang energik dan tentunya yang sudah atau sedang menapaki karier cemerlang di partai beringin ini, yang punya akses dan jaringan di internal dan eksternal partai. Belum punya dosa politik, integritasnya pun belum ternoda. Dan bukan bagian dari sebuah dinasti politik.

Sejak tahun 1992 saya menjadi pengurus partai Golkar dan baru tiga tahun terakhir saya tidak masuk dalam struktur partai. Namun saya tetap mengamati akselerasi kader Golkar di berbagai sisi. Sehingga jika harus menyebut nama saya kira setidaknya ada empat kader yang punya kans untuk dibicarakan sebagai figur terbaik, pantas, dan patut menjadi ketua Golkar Sulsel lima tahun ke depan.

Mereka adalah Supriansa (anggota DPR RI), Hamka B Kady (anggota DPR RI), Taufan Pawe (Ketua Golkar/Wali Kota Parepare), dan Syamsuddin Hamid (Ketua Golkar/Bupati Pangkep).

Kempatnya menurut saya adalah energi baru yang berdaya kapasitas tinggi menjadi Komandan Partai Beringin. Terutama saya lihat pada diri Supriansa, dalam hal vitalitas dan daya gempur dia punya nilai plus, karena sebelum masuk ke dunia politik, Bung Supri besar di jalanan mengembara di “parlemen jalanan”. Menjadikannya berani dan matang menghadapi berbagai kondisi.

Semoga kader Golkar di forum Musda 2020 diberi kesadaran penuh untuk meletakkan kepentingan partai di atas kepentingan kelompok dalam menentukan Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel 2020-2025.

Itulah secercah harapan seorang kader yang ada di level terbawah. (*)

Pattene, 8 Juli 2020

Related posts